Minggu, 09 Juni 2013

CERPEN 1

Urusan kantor selalu menyita waktu ku. Aku sering terlambat makan karena harus mengurus berkas yang menumpuk dimeja. Aku bekerja di salah satu rumah sakit swasta di jakarta. Aku bekerja bagian perkantoran rumah sakit ini. Ya bagaimana tidak sibuk, rumah sakit kan selalu buka 24 jam. untuk berleha-leha pun susah. Kriiiing.. suara telepon dimeja ku berdering. “halo, dengan khanza disini. Ada yang bisa..” belum selesai aku bicara, orang yang ada di telepon ini memotong dengan cepat “tolong antarkan berkas pasien atas nama ibu merry sastro handoyo sekarang keruangan saya”. “maaf  saya tidak tau harus diantar kemana, karena saya tidak tau saat ini saya bicara dengan siapa” ucap ku kepadan. “saya dokter thomas, saat ini saya sangat butuh berkas pasien yang tadi saya beritau kepada anda. Tolong antarkan ke klinik umum sekarang.” Jawabnya kepadaku “maaf dok saya tidak mengenal anda, sebenarnya anda ini siapa kenapa anda ada diruang klinik umum. Seharusnya saat ini jadwal praktek dokter miranda”. Tanyaku dengan bingung. Tetapi orang ini menjawab dengan ketus “anda ini banyak tanya, apa setiap anda bekerja selalu bertanya dengan detil? Bagaimana jika pasien ini dalam keadaan sekarat? Apa anda mau mengantarnya jika surat kematian sudah dibuat?” kaget dengan ucapan orang itu langsung saja aku menjawab “aaah... itu.. bbaik dok maafkan saya. Akan segera saya antar sekarang juga”
Dalam perjalanan lorong rumah sakit ini aku berfikir sebenarnya siapa dia? Apa dia anak dokter miranda yang sekolah di amerika? Kenapa bicaranya ketus sekali. Apa dia tidak diajarkan sopan santun oleh orang tuanya?. Setelah aku tiba di depan pintu klinik umum, langsung saja aku ketuk pintunya. Kemudian terdengar suara dari dalam “ya, masuk”. Tanpa ada sepatah katapun yang keluar dari mulutku langsung saja aku letakan berkasnya di meja dokter. Sambil aku mencuri pandang ke wajah dokter ini. Ya memang benar aku belum pernah melihat orang ini. Pantas saja aku tidak mengenalnnya. Wajahnya cukup lumayan lah, tapi cara bicaranya tadi di telepon membuat aku tidak suka dengan dia. Saat aku mengamati wajahnya tina-tiba saja dia melihat ku. Aku kaget, panik, dan malu. Langsung saja aku pergi dari ruangang itu.
Saat ini jam istirahat siang. Tapi aku sempat untuk makan siang. Padahal perutku sudah memaksa untuk diisi makanan. Baiklah setelah aku mengumpulkan berkas dari semua klinik baru aku makan siang. Ruang demi ruangan aku masuki. Tidak mudah membawa berkas dalam jumlah banyak. Berkas ini mengalihkan pandangan ku, sehingga aku sulit untuk melihat jalan yanga ada di depan ku. Tiba-tiba bruuuuk!!! Aw sakit sekali. Aku tersungkur. Semua berkas yang ada di tanganku berceceran di lantai. Ternyata tadi aku menabrak seseorang. Orang itupun juga juatuh didepanku. Saat orang itu bangun dan berjongkok untuk baru aku tau ternyata dia dokter yang tadi. “oh manusia ketus ini” batin ku. “tidak ada kata maaf yang keluar dari mulutnya. Dia hanya membantu aku mengumpulkan berkas yang ada dilantai. Setelah itu dia letakan di lantai dibawah kakiku, kemudia dia pergi tanpa pamit. Waah hebat sekali seseorang yang berpendidikan bersikap seperti tidak pernah merasakan bangku sekolah.
***
Setelah pulang bekerja aku mampir sebentar ke coffee shop dekat rumah ku. Sepertinya aku butuh rilex hari ini. Setelah hot vanilla late di tangan ku. Aku mencoba mencari tempat duduk didalam toko ini. Tetapi tidak ada yang kosong. Akhirnya aku putuskan mencari di luar. Termata sama saja. “Haaah... kenapa hari ini sangat sial” ucapku dalam hati. “duduk disini aja gue sendirian kok” .aku kaget dengan orang yang berbicara di samping ku. Ternyata manusia itu. “kenapa lo? dendam sama gue gara gara tadi lo nabrak gue? Harusnya gue yang marah sama lo. selow aja sama gue mah” ucap orang itu dengan senyum kepadaku. entah kenapa melihat senyumnya itu aku menerima tawarannya. Kami duduk berhadapan. Dan kami saling bercerita. Ternyata dia tidak seburuk apa yang aku pikir sebelumnya. Dia sangat ramah. Dia bilang dia anak dokter miranda, hari ini dia membantu ibunya karena ibunya ada urusan penting. Gaya bicaranya seperti anak muda pada umumnya. Selengean tapi sangat hangat. Pandangan aku tentangnya berubah seketika. Tidak terasa sudak 4 jam aku berbincang-bincang dengan dia. Waktu menunjukan pukul 7 malam. Saatnya aku pamit dengannya. Dia bilang dia akan mengantarkan aku pulang. Awalnya aku menolak, tapi dia sedikit memaksa akhitnya aku terima. Yah lumayan hemat 2000 rupiah. Dia bilang di kota jakarta  ini belum banyak orang yang dia kenal dan daerah yang dia tau. Mangkanya dia ingin mngantar aku pulang katanya sekalian menghafal jalan kota jakarta.
***
Hari ini aku libur. Tapi aku sudah janji untuk mengantar thomas melihat pameran di daerah kuningan. Entahlah kenapa kami semakin akrab. Bahkan semakin dekat dari waktu ke waktu. Saat aku sedang bersama dengan thomas. Tiba-tiba hp ku berdering. Aku lihat nama di layar hp ku bertuliskan nama radit. Dia adalah mantanku. Tapi bukankah dia di penjara karena kasus narkoba? Tanya ku dalam batin. Aku coba mengangkat teleponnya dan menjauh dari thomas beberapa meter. Dan benar saja itu suara radit. Dia bilang dia ingin bertemu dengan ku. Aku menolak dengan mentah-mentah. Tapi dia memaksanya, bahkan mengancam jika aku tidak menuruti permintaannya dia akan menghancurkan keluargaku. Terpaksa aku menurut. Aku dengan radit putus tidak dengan cara baik-baik. Sebelum dia tertangkap tangan sedang pesta narkoba di apartemennya aku memergoki dia selingkuh dengan wanita lain di salah satu mall. Awalnya dia tidak mau mengakuinya tapi akhirnya dia berkata “ya memang itu semua benar”. Setelah itu kami tidak berkomunikasi. Sampai pada akhirnya aku mendengar kabar jika ia tertangkap sedang memakai narkoba. Aku bingung kenapa sekarang ia mencari ku. Apa dia ingin menjelaskan soal selingkuhannya? Ah akurasa tidak mungkin.
Saat thomas ingin mengantarkan aku pulang aku berbohong dengannya bahwa aku harus kerumah tante ku untuk bertemu dengan sepupu ku yang tinggal di luar kota. Semua itu aku lakukan karena aku terpaksa ingin menemui radit. Dia bilang dia sudah menunggu ku di lapangan basket tempat dulu dia menyatakan cintanya kepada ku. Aku heran kenapa dia memilih tenpat itu. Menurutku untuk jam 8 malam ini tempat itu sepi sekali, ditambah dengan ruangannya yang indoor. Setibanya disana aku sudah melihat sosok radit yang sedang duduk di bangku penonton. “akhirnya kamu datang juga”. “mau apa kamu bertemu dengan ku?” tanyaku kepadanya. “aku masih sayang sama kamu, aku mau kita . Kita seperti dulu”. Ucapanya kepada ku membuat aku kaget. “maaf aku tidak bisa, aku rasa kamu bisa mendapatkan orang yang lebih baik dari aku” tentu saja aku menolaknya dengan cepat. “kamu terlalu cepat untuk menolaknya. Lebih baik kamu fikir dulu.” Ucapnya kepada ku sambil memegang tangan ku. Tapi aku segera menampisnya dan juga menolak ucapan cintanya dengan sopan, aku takut dia tersinggung dengan ucapan ku. Dia memaksa ku dan meyakinkan aku tidak akan mengulangi kesalahan dahulu yang ia buat sambil menggoyang-goyangkan pundak ku dengan keras. Aku tetap mengatakan tidak bisa. Tapi cengkramannya semakin keras. Entahlah setan apa yang merasuki dirinya. Dia malah berbuat kasar kepada ku. Dia menampar ku,  menjatuhkan ku ke aspal, tapi dia masih memaksa dengan mengatakan cintanya. Ini gila, aku rasa dia sakit jiwa. Dia melakukan itu berkali-kali. Aku menangis tapi dia tidak perduli. Aku mencoba lari tapi pada akhirnya tertangkap juga. Aku berteriak tapi tidak ada yang menolongku. Sampai suatu ketika terdengar suara teriakan seorang pria. “hentikan!!!”. Saat aku ingin melihat sosok pria itu tiba-tiba semuanya buram. Setelah itu aku tidak tau lagi apa yang terjadi. Semua hening tanpa suara.
Rupanya aku pingsan tadi. Saat ini aku sudah berada di apartmen thomas. Ia tinggal disini sendiri. Ia memilih tinggal pisal dengan keluarganya karena ia ingin mandiri. “kenapa kamu bisa tau aku ada di lapangan basket tadi?” tanya aku kepadanya. “sebenarnya aku mengikuti kamu. Saat kamu masuk ke dalam lapangan indoor hp aku bunya. Aku takut ketauan kamu kalau aku ngikutin kamu. Mangkanya aku agak ngejauh dari ruang indoor itu. Setelah aku sudah selesai menelepon tiba-tiba aku dengar kamu berteriak. Aku langsung masuk ke sana. Saat itu Aku heran apa yang akan kamu lakukan disana. Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya thomas kepada ku. Awalnya aku malas untuk menceritakannya karena aku masih merasa sakit, tapi dengan pelan-pelan aku jelaskan kepadanya. dia mendengarkan ceritaku dengan seksama. Ada ketulusan disana saat aku melihat matanya. Tiba-tiba suasana menjadi kaku, mungkin karena kami kehabisan bahan obrolan. Langsung saja aku mengajak dia mengobrol sambil menikmati secangkir kopi. Awalnya aku ingin membuatkan kopi tapi dia bilang biar dia saja, dan menyuruh aku menunggu di teras apartemennya.
Suasana disini sangat romantis. Aku berada di teras apartemen dari lantai 25. Disini aku bisa melihat indahnya jakarta di malam hari. Saat aku sedang duduk sambil menikmati pemandangan lampu jakarta thomas menyodorkan kopi yang ada di tangannya. Setelah aku mengucapkan terimakasi dia bertanya apakah aku senang berada disini. Aku jawab “tentu saja, pemandangan disini sangat indah”. Aku bertanya kepada dia kenapa dia tidak membawa ku kerumah sakit saja. Dan dia menjawab “untuk apa? Aku ini kan seorang dokter juga. Lagi pula aku ingin merawat kamu sendiri”. Jawaban yang membuat aku melayang. Aku takut saat itu aku sedang melayang terbawa angin maklum saja di ketinggian 25 lantai ini anginnya sangat kencang. kemudian Dia melanjutkan pembicaraan tadi “aku mau disaat aku membuka mata di pagi hari bisa melihat kamu. Dan aku mau setiap malam kita bisa menikmati pemandangan indah ini.”. oh my god pembicaraan apa lagi ini. Hatiku sangat dag dig dug mendengar kata-kata itu. Aku takut dia akan mendengar irama jantungku saat ini.  Aku hanya menjawab dengan tawa yang agak chrispy sambil meletakan kopi di meja depan ku yang aku genggam tadi “hahaha... maksudnya?” aku bingung harus berkata apa tuhaaaan. “aku mencintaimu, kamu mau jadi istri ku?. Aku tidak mau kita pacaran karena itu tidak pasti. Aku mau sebuah hubungan yang pasti. Aku butuh jawaban dari kamu sekarang.”. aku terharu mendengar ucapan yang keluar dari bibir thomas itu. Setengah tidak percaya, aku mencoba mencubit tangan ku sendiri sebelelum menjawabnya. “aku serius dan ini bukan mimpi, untuk apa kamu mencobit tangan mu sendiri”. “aku Cuma mau memastikan aja. Daaan... aku bersedia menjalani hari-hari aku bersama kamu” aku menjawab dengan senyuman. Dan dia pun membalas senyumku. Kemudian dia meletakan kopi yang dia genggam. Dan segera memeluk ku erat-erat.

Bagraound song “untuk mu aku bertahan”. Tenanglah kekasih ku, ku tahu hatimu menangis. Beranilah tuk percaya semua ini pasti berlalu. Meski takan mudah namun kau takan sendiri. Ku ada disini... untukmu aku akan bertahan, dalam gelap takan kutinggalkan. Engkaulah teman sejatiku. Kasihku di setiap hariku......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar