Minggu, 09 Juni 2013

CERPEN 2

Kesibukan jakarta pagi ini membangunkan aku dari tidur ku. Rasanya aku ingin marah dengan warga di sekitar rumah ku ini kenapa pagi pagi sukanya membuat keributan. Padahal hari ini adalah hari minggu. Ada yang berteriak “sayurrrrrr...” , ada yang menyetel lagu danggut dengat volume kencang, bahkan ada yang berteriak memaki “aduuuh cucian gue banyak bange ini, punya anak perawan gak punya kesadaran banget sih. Bukannya bantuin orang tua !!!”. Ya inilah dukanya tinggal di gang kumuh pelosok jakarta. Semua hal yang simpel dibuat ribut. Padahal semuanya bisa diselesaikan dengan baik, tidak perlu membentak ataupun berteriak sampai membuat tetangga yang sedang tidur terbangun. 
Aku nada, umurku masih 17 tahun. Seperti yang kalian tau dari atas aku tinggal di pemukiman padat kota jakarta. Hidupku sangat sederhana. Aku hanya tinggal dengan ibu dan kakak laki-laki ku. Ayah ku sudah tidak ada. Sejak aku berusia 5 tahun ia sudah meninggalkan ku. Entah apa polemik yang membuat ayah meninggalkan kami karena ibu tidak pernah bercerita dengan aku dan kakak ku. Tetapi yang sering tetangga bilang ayah itu orang jahat. Ia suka memukul ibu jika ia tak punya uang, dan katanya ia meninggalkan ibu karena menikah dnegan wanita lain. Yaaah persetan lah dengan keadaan ayah ku. Aku tidak perduli saat ini dia masih hidup atau tidak yang jelas ia tidak pernah menafkahi aku dan keluaga. Yang ia lakukan hanya menanam sperma di dalam rahim ibu saja. Setelah itu ia pergi mencari kesenangan duniawinya. dari cerita singkatnya saja aku sudah bisa menebak jika ayahku bukan manusia baik.
Rasanya aku malas bangkit dari kasur ini. Walaupun kasur yang aku tiduri sangat tipis tapi aku nyaman berada  disini.  Rasa bising diluar bisa aku minimalisir dengan membekap kepalaku mengguanakan bantal. Tetapi kali ini ada yang memaksaku untuk turun dari tempat tidur ku. “gumpraaang !!!” suara apa itu? Batinku bertanya. Sepertinya suara itu terdengar sangat jelas sekali. Apa jangan jangan berasal dari dalam rumahku?. Ah mungkin saja ibu ku tidak sengaja menjatuhkan piring kelantai karena sangat sibuknya dia berdagang nasi uduk di depan rumah ku. Tapi suara itu di susul dengan tangisan dan makian yang sangat keras. Sejenak aku berpikir. Itu adalah suara ibuku. Segera aku keluar dari kamarku menuju sumber suara itu. rupanya suara itu berasal dari ruang tamu ku. Aku melihat dua orang lelaki dengan perawakan yang besar sedang memukul ibu ku sampai ibu ku tersungkur ke lantai. Dan salah seorang lelaki itu berkata “pokoknya saya tidak mau tau bu kalau sampai minggu depan ibu tidak melunasi hutang ibu yang 10 juta ibu akan mendapatkan akibatnya yang lebih dari pada ini”. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Yang aku lakukan hanyalah berdiri ditempat dengan mulut terkatup rapat dan aku sibuk dengan kalimat yang terlintas didalam otakku, ternyata hutang keluargaku sudah sampai 10 juta. Setelah kedua orang pria itu pergi aku segera menghampiri ibu ku. “sudah tidak apa-apa nak, ibu baik-baik saja” sepertinya ia sudah paham apa yang akan aku katakan “cepatlah kamu mandi dan pergi kesekolah. Kakakmu sudah pergi dari jam 5 subuh tadi katanya ia akan menyiapkan kelasnya untuk acara ulang tahun sekolah degan teman temannya” tanpa membantah aku segera pergi kekamar mandi. Saat waktu menunjukan puluk 06.55 aku berangkat kesekolah. Sekolahku tidak jauh dari rumah hanya membutuhkan waktu 5 menit sudah sampai. Aku jalan dengan otak yang sibuk memikirkan kejadian yang tadi. Sebenarnya kejadian yang tadi aku alami bukanlah kali pertamanya. Tapi yang sangat aku bebankan adalah jumlah hutang keluarga ku sudah mencapai 10 juta. Rentenir itu sangat kejam, mereka suka meminjamkan uang kepada orang lain dengan bunga besar. Aku berfikir keras bagaimana caranya aku bisa membantu ibu ku melunasi semua hutangnya.
Akhirnya pada saat istirahat aku memberanikan diri untuk meminjam uang dengan alika. Alika terkenal dengan keglamorannya. “oh lo mau minjem duit sama gue? Gimana kalo lo kerja aja sama gue” dengan ia menawarkan pekerjaan akupun sangat antusias. Akhirnya sepulang sekolah aku diajak olehnya kerumahnya. Diluar bayanganku rumahnya sangat jelek. Aku pikir alika anak orang kaya karena hidup dengan glamor “gue bisa bergaya kaya gini karena gue kerja” itu yang ia katakan kepada ku saat aku memasuki kamarnya yang kecil dan sumpek ini. Setelah ia memberikan minum kepadaku ia menceritakan tentang pekerjaan yang ia lakukan selama ini. Yang aku kaget ternyata ia bekerja sebagai pemuas nafsu para lelaki. “Boleh dibilang gue ini simpenan om-om nad” iya berbicara dnegan ku sambil menghisal rokoknya ditagan. “gimana lo mau gak bisa ngelunasin utang keluarga lo? Udah gitu lo bisa idup kaya gue tanpa susah lagi nantinya. Soal dosa mah jangan dipikirin kalo udah tua baru kita tobat”. Dengan bujukan yang alika berikan kepadaku akhirnya aku bersedia untuk melakukan itu.
Singkat cerita semuanya telah terjadi. Aku sudah menjual apa yang berharga didalam diri wanita. Semua aku lakukian dnegan terpaksa. Aku menangis dirumah alika, tetapi dia malah berkata “lemah lo, begitu aja mewek. Gimana lo mau jadi orang kaya coba !!” bentak dia kepada ku. Semua sudah terlanjur. Uang hasil pekerjaan ku pun sudah ditangan ku. Akhirnya aku pulang kerumah dengan  membawa uang itu. Diam diam aku letakan semua itu didalam lemari ibu. Aku menyesal dengan semua yang aku lakukan. Tapi aku puas setidaknya aku bisa melunasi hutang ibu ku. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika ibu ku tau. Kira-kira seberapa besar dosa yang di tanggung aku. Apakah ibuku juga menanggu dosa yang telah aku lakuakan?. Rasanya percuma aku menyesalinya. Daripada aku dirumah dengan fikiran ini lebih baik aku pergi kerumah alika. Tetapi sesuatu yang buruk terjadi menimpaku di tengah perjalanan. Saat aku ingin menyebrang jalan aku tidak melihat jika ada truk yang ingin lewat di hadapanku, aku tetap masih sibuk dengan fikiran yang masih menyesal. Daaaan, “bruuuuk !!!” suara yang sangat keras terdengar di telingaku. Saat itu aku merasa tubuhku seperti melayang diudara. Saat itu akumerasa nyaman karena sepertinya perasaan menyesal yang menjadi beban seolah olah hilang dengan sendirinya. Mungkinkah truk itu yang menghapus beban difikiran ku? Tiba-tiba semuanya gelap, Sunyi, dan senyap. Mungkinkah ini cara tuhan untuk membuat aku lupa dengan masalahku. Jika ia, kenapa tuhan masih baik denganku padaha aku sudah berbuat dosa besar.
Saat aku membuka mata, yang aku lihat adalah langit-langit kamar yang putih. Disini aku mencium bau karbol yang sangan menusuk hidung ku. Akupun mendengar suara isak tangin yang setelah aku lihat itu adalah ibu dan kakak ku. Dan disampingnya aku melihat ada seorang dokter dan seorang oerawat yang aku kenali dari seragam yang mereka kenakan. Tetapi disamping mereka aku melihat seorang yang aku tidak tau siapa. Entah pria atau wanita. Wajahnya tidak bisa aku lihat karena terhalang oleh cahaya yang bersinar dengan terang. Suara tangisan itu sisusul dengan dengan suara yang menyubut-nyebut nama ku. Entah apa yang akan dilakukan dokter dan perawat itu terhadap tubuhku. Yang jelas saat aku ingin memutar arah wajahku kehadapan ibu dan kakak ku, aku melihat orang asing itu semakin mendekati ku. Bahkan cahaya yang memancar dari wajahnya menyilaukan pandanganku sehingga aku tidsak bisa melihat wajah ibu dan kakak ku. Tiba-tiba semua gelap kembali. Yanga ada hanyalah suara satu nada datar  yang keluar dari alat disamping ku “tuuuuuut...”. setelah itu tidak ada apa-apa lagi yang terjadi. Seperti pudar tapi masih membekas. Seperti hambar tapi masih terasa. Seperti gelap tapi masih terlihat jelas. Aku harap tuhan masih mau memberikan separu tempat di surga nanti untuk ku beristirahat. Jadi aku bisa membaginya untuk ibu dan kakak nanti jika kami bertemu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar